Boyolali, Mediasimoraya.com – Sebuah gudang penampungan barang rosok di Desa Tempursari, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah ludes terbakar pada Rabu (29/7/2026) siang. Kebakaran diduga berasal dari api sisa pembakaran sampah yang belum padam, lalu kembali menyala akibat tiupan angin kencang dan akhirnya merambat ke tumpukan barang rosok. Kerugian akibat kejadian ini diperkirakan mencapai Rp50 juta.
Kobaran api with cepat membesar di dalam gudang yang berisi material mudah terbakar seperti plastik dan berbagai jenis barang bekas yang akan dikirim ke pabrik daur ulang. Asap hitam pekat pun berserakan tinggi hingga ke langit, menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga sekitar. Warga bersama personel Polsek Sambi dan Koramil Sambi segera berusaha menahan laju api dengan peralatan yang tersedia.
Upaya pemadaman semakin krusial ketika api mulai menjalar ke sebuah bangunan joglo milik salah satu yayasan pondok pesantren yang berada tepat di samping lokasi kebakaran. Api juga sempat menyentuh rumpun bambu di sekitar area, sehingga memperluas area rawan dan menyulitkan akses pemadam. Dua unit mobil pemadam kebakaran pun langsung diterjunkan ke lokasi untuk membantu mengamankan situasi.
Setelah berjibaku selama sekitar satu setengah jam, petugas berhasil memadamkan api sepenuhnya. Lamanya proses pemadaman ini dipengaruhi oleh banyaknya jenis material rosok yang mudah terbakar di lahan berukuran sekitar 8 x 10 meter. Menurut Kapolsek Sambi AKP Maryanto, hasil penyelidikan sementara mengindikasikan bahwa kejadian ini memang dipicu oleh api sisa pembakaran sampah yang tidak sepenuhnya padam.
“Kejadian ini terjadi karena api dari sisa pembakaran sampah yang notabene masih menyala dan merembet ke arah gudang. Untuk kerugiannya, kami perkirakan sekitar Rp50 juta,” ungkapnya. Ia menjelaskan bahwa tim gubernur telah melaksanakan bantuan pemadaman bersama BPBD dan Koramil Sambi. “Alhamdulillah api sudah padam. Objek yang terbakar adalah sampah-sampah, kebetulan juga plastik dan rongsok yang nantinya akan didaur ulang.”
Meskipun tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa ini, kerusakan material yang dialami cukup signifikan. Barang rosok yang sudah dikumpulkan selama waktu tertentu pun musnah habis. Insiden ini juga menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan sampah yang aman dan berkelanjutan, terutama di area yang berdekatan dengan bangunan atau hutan kering.
Latar belakang kejadian ini menegaskan betapa rentannya area penampungan sampah terbuka terhadap ancaman kebakaran, apalagi saat kondisi cuaca kering dan angin kencang. Selain itu, minimnya pengawasan langsung dan penggunaan teknologi pemadam dapat menjadi faktor yang memperparah dampaknya.
Dampak dari kejadian ini tidak hanya terbatas pada kerugian materi, namun juga berpotensi memengaruhi aktivitas daur ulang lokal. Komunitas atau pengusaha yang bergantung pada bahan rosok sebagai sumber pendapatan mungkin akan terdampar. Oleh kuda, penting bagi pemerintah desa dan kelurahan untuk melakukan evaluasi terhadap prosedur pengelolaan sampah dan memastikan adanya protokol keamanan yang jelas.
Selain itu, insiden ini juga menyoroti pentingnya kesadaran kolektif warga akan risiko kebakaran akibat pembakaran sampah sembarangan. Upaya pendidikan lingkungan dan edukasi keamanan kebakaran perlu ditingkatkan agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Redaksi Media Simo Raya
MediaSimoRaya.com





