LPK Serbaindo Buka 45 Ribu Lowongan Kerja ke Jepang untuk Warga Salatiga, Siap Latih SDM Melalui Jalur Resmi

oleh -13 Dilihat
oleh
banner 468x60

Salatiga, Mediasimoraya.com – Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Serbaindo mengajak Pemerintah Kota Salatiga membuka peluang kerja di Jepang melalui kerja sama formal, setelah memperoleh status Sending Organization (SO) dari Kementerian Ketenagakerjaan, dalam pertemuan Selasa, 4 Agustus 2026, yang dihadiri Wali Kota dr. Robby Hernawan, Direktur LPK Serbaindo Iman Abdul Rahman, serta pejabat Disperinnaker dan wakil Exceed Cooperative Japan.

Dalam sidang tersebut, Iman menjelaskan bahwa LPK Serbaindo telah resmi mengantongi izin sebagai SO sehingga berwenang menyiapkan dan memberangkatkan tenaga kerja Indonesia ke Jepang melalui jalur resmi. Ia menegaskan bahwa kebutuhan tenaga kerja di Jepang, khususnya di sektor perawatan lansia (caregiver), terus meningkat seiring dengan vergensi penduduk yang tua, sehingga membuka peluang besar bagi lulusan SMA atau SMK di Indonesia, termasuk warga Salatiga.

Iman menerangkan bahwa peserta yang ingin bekerja di Jepang harus berusia antara 18 hingga 25 tahun, lulusan minimal SMA/SMK atau Paket C, dan menjalani pelatihan intensif selama kurang lebih lima bulan. Pelatihan ini dirancang untuk memenuhi standar kompetensi yang diperlukan oleh perusahaan Jepang, termasuk kemahiran bahasa Jepang dasar, teknika perawatan, dan disiplin kerja.

Dengan dukungan Pemkot, LPK Serbaindo berharap dapat meningkatkan kapasitas program hingga sekitar 45 ribu peserta sesuai dengan kebutuhan dan minat masyarakat. Angka ini bukan proyeksi sembarang, tetapi didasarkan pada survei minat lulusan sekolah di Kota Salatiga dan sekitarnya yang menunjukkan minat tinggi terhadap pekerjaan di luar negeri, terutama di Jepang.

Selain membuka akses kerja, LPK Serbaindo juga menawarkan kolaborasi dalam bidang kesehatan melalui program senior living, peluang pengembangan hubungan sister city dengan sejumlah kota di Jepang, hingga transfer teknologi dan pengelolaan sampah bersama Kota Kitakyushu dan Fukuoka. Iman menambahkan bahwa sinergi ini diharapkan tidak hanya menambah pendapatan devisa tetapi juga meningkatkan kualitas layanan publik di Salatiga melalui pengetahuan yang dibawa kembali oleh tenaga kerja yang kembali.

Namun, Iman mengakui masih ada tantangan dalam memperluas program tersebut, terutama terkait sosialisasi kepada masyarakat dan stigma negatif yang masih menempel pada lembaga pelatihan kerja akibat tindakan oknum tertentu di masa lalu. Ia menegaskan bahwa untuk mengatasi hal ini diperlukan bukan hanya dukungan anggaran, tetapi juga sistem pendukung, branding pemberdayaan masyarakat, serta kolaborasi dalam mengurangi pengangguran dan meningkatkan ekonomi setempat.

Wali Kota Salatiga dr. Robby Hernawan menyambut baik ajakan LPK Serbaindo, menyebutnya sejalan dengan program Pemerintah Kota Salatiga dalam menekan angka pengangguran. ‘Kami juga memiliki program pengentasan pengangguran, terutama bagi lulusan SMA yang belum mendapatkan kesempatan bekerja,’ katanya, menegahkan bahwa pemerintah siap menggandeng berbagai lembaga pelatihan kerja untuk meningkatkan keterampilan masyarakat sehingga mampu bersaing di pasar kerja regional, nasional, dan internasional.

Robby menegaskan bahwa Pemkot akan menggandeng Lembaga Pelatihan Kerja untuk memberikan keterampilan yang siap pakai, sehingga tenaga kerja tidak hanya mampu bekerja di jenjang regional maupun nasional, tetapi juga bersaing di pasar internasional. Ia menambahkan bahwa pemerintah akan menyediakan fasilitas administratif untuk mempermudah proses administrasi dan izin terkait pengiriman tenaga kerja ke luar negeri.

Sebagai tindak lanjut, Pemkot Salatiga dan LPK Serbaindo sepakat menyiapkan penyusunan Memorandum of Understanding (MoU) serta memperluas sosialisasi kepada masyarakat agar semakin banyak warga Salatiga memiliki kesempatan bekerja di Jepang melalui jalur resmi. MoU ini akan mengatur pembagian tanggung jawab, jadwal pelatihan, serta mekanisme pendanaan dan pendampingan peserta dari awal seleksi hingga keberangkatan.

Harapan pihak pemerintah, program ini dapat memberikan kesempatan kerja yang lebih luas bagi masyarakat Salatiga dan mendukung visi menjadikan Salatiga sebagai kota yang beda dan mendunia dari berbagai aspek. Robby menutup dengan menyatakan bahwa keberhasilan kolaborasi ini akan menjadi contoh bagi kota-kota lain di Jawa Tengah dalam memanfaatkan peluang kerja internasional sebagai solusi struktural terhadap pengangguran.

Dari perspektif ekonomi, aliran tenaga kerja ke Jepang berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan daerah melalui rupiah yang dikirim kembali oleh pekerja migran. StudiBank Indonesia menunjukkan bahwa setiap juta dolar devisa yang masuk dapat memicu multiplikator ekonomi sebesar 1,5 hingga 2,0 dalam bentuk konsumsi dan investasi lokal. Selain itu, pengalaman kerja di luar negeri cenderung meningkatkan keterampilan teknis dan disiplin kerja yang, setelah pulang, dapat diterapkan dalam usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Salatiga, sehingga menciptakan lapangan kerja baru secara indirekt.

Indonesia telah lama menjadi salah satu negara penyokong tenaga kerja untuk Jepang, terutama melalui program Technical Intern Training Program (TITP) dan jalur spesifik untuk sektor perawatan. Data Kementerian Ketenagakerjaan tahun 2024 mencatat sekitar 120 ribu tenaga kerja Indonesia yang aktif di Jepang, dengan sektor caregiver menyumbang hampir 40 persen dari total. Kebijakan pemerintah terkait penguatan Sending Organization dan standar pelatihan telah diperketat sejak 2022 untuk melindungi pekerja dari penyalahgunaan, sehingga keberadaan LPK yang resmi berstatus SO seperti Serbaindo menjadi elemen kunci dalam menjamin keamanan dan legalitas proses pengiriman.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.