Boyolali, Mediasimoraya.com – Pemerintah Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menggelar welcome dinner untuk peserta Merapi Merbabu De Trail Run (MMDTR) 2026 di Rumah Dinas Bupati Boyolali, Jumat (31/7/2026). Kegiatan pembuka ini menandai dimulainya rangkaian ajang lari tahunan yang mengusung konsep sport tourism, dirancang untuk memperkenalkan potensi wisata alam Kabupaten Boyolali melalui lintasan menantang di kawasan Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Ajang ini berhasil menarik minat pelari tidak hanya dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga peserta mancanegara yang mewakili 14 negara, menegaskan posisinya sebagai acara berstandar internasional.
Bupati Boyolali, Agus Irawan, dalam sambutannya menegaskan bahwa MMDTR 2026 memiliki dampak multiplikator yang melampaui sekadar kompetisi olahraga. “Agenda Merapi Merbabu De Trail Run ini banyak sekali manfaatnya, salah satunya untuk mengenalkan Kabupaten Boyolali ke kancah nasional maupun internasional,” ujar Agus. Ia menambahkan bahwa kehadiran peserta dari Spanyol menjadi momen istimewa, sekaligus mengungkapkan komitmen Forkopimda Boyolali untuk turut berpartisipasi berlari. “Besok kami bersama Forkopimda juga akan ikut lari, bahkan informasinya Pak Sekda akan mengikuti kategori 30 kilometer,” tambahnya, menunjukkan dukungan penuh dari pimpinan daerah terhadap keberhasilan event ini.
Momen puncak pada malam welcome dinner tersebut adalah peluncuran maskot resmi Kabupaten Boyolali, “Boy” dan “Loli”, yang menghias diri dengan kostum sapi. Pilihan ikon sapi tidak terlepas dari identitas Boyolali sebagai salah satu sentra peternakan sapi perah terbesar di Jawa Tengah. Kehadiran duo maskot ini dinilai strategis untuk memperkuat branding daerah secara menyeluruh. Maskot Boy dan Loli diharapkan menjadi wajah promosi yang ramah dan mudah diingat, tidak hanya untuk sektor pariwisata, tetapi juga untuk mengangkat produk UMKM serta menjadi ikon setiap event yang digelar di wilayah ini, menciptakan kohesi visual yang kuat bagi citra Kabupaten Boyolali.
Kepala Bidang Kepemudaan Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Boyolali, Rima Kusuma, menyoroti keragaman peserta serta upaya pengalaman budaya yang disiapkan panitia. “Merapi Merbabu De Trail Run ini melibatkan peserta lokal dari berbagai daerah di Indonesia dan peserta dari 14 negara. Malam ini kami mengajak mereka menikmati kuliner khas Boyolali dari UMKM,” jelas Rima. Ia berharap dengan adanya welcome dinner yang menyuguhkan hiburan seperti penampilan RK Music dan kuliner khas, kondisi fisik dan mental para pelari menjadi optimal untuk menghadapi lintasan besok. “Harapannya besok saat lari mereka sudah siap dan bisa maksimal sampai finis,” pungkasnya.
Antusiasme peserta terpancar dari Ismelinda, seorang pelari asal Bandung yang mengaku pertama kali mengikuti MMDTR. “Saya baru pertama kali ikut Merapi Merbabu De Trail Run ini. Saya sangat excited dan ingin segera merasakan sensasi berlari di sini,” ucapnya dengan penuh semangat. Tanggapan positif ini mencerminkan daya tarik lintasan yang menawarkan pemandangan kawah Merapi dan lereng Merbabu yang eksotis, menjadi daya tarik utama bagi komunitas trail runner baik domestik maupun asing.
Secara analitis, penyelenggaraan MMDTR 2026 ini merupakan manifestasi nyata dari strategi pembangunan berbasis sport tourism yang saat ini digalakkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Boyolali, yang secara geografis berada di kawasan Cagar Biosfer Merapi-Merbabu yang diakui UNESCO, memiliki modal geografis yang tak tertandingi. Mengemas lari lintas alam (trail run) bukan hanya soal olahraga, tetapi soal bagaimana mengubah aset alam menjadi produk ekonomi yang berkelanjutan. Melibatkan 14 negara asal peserta mancanegara membuka peluang promosi “mulut ke mulut” (word of mouth) yang efektif di pasar internasional, jauh lebih autentik dibandingkan iklan konvensional. Selain itu, sinergi dengan pelaku UMKM dalam penyajian kuliner pada welcome dinner menunjukkan upaya distribusi pendapatan langsung ke masyarakat, memperkuat perekonomian kerakyatan di saat event berlangsung.
Peluncuran maskot Boy dan Loli sekaligus menandakan keseriusan Pemkab dalam membangun brand awareness jangka panjang. Di era digital di mana visual identity menentukan daya saing destinasi, memiliki karakter maskot yang mewakili identitas lokal (sapi) adalah langkah cerdas untuk menciptakan ikon yang *marketable* di merchandise, media sosial, dan promosi lintas platform. Ke depan, keberlanjutan event ini akan diuji oleh konsistensi kualitas lintasan, keamanan pelari, serta kemampuan manajemen event dalam mengelola dampak lingkungan di kawasan konservasi. Jika dikelola dengan baik, Merapi Merbabu De Trail Run berpotensi menjadi *flagship event* yang menempatkan Boyolali sebagai destinasi sport tourism utama di Indonesia, setara dengan event serupa di kawasan vulkanik terkenal dunia.
Redaksi Media Simo Raya
MediaSimoRaya.com





