Guntur Romli Arsip - Media Simo Raya https://mediasimoraya.com/tag/guntur-romli/ Cepat • Akurat • Relevan Fri, 29 May 2026 14:17:08 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0 https://mediasimoraya.com/wp-content/uploads/2026/05/cropped-20260207_212303-32x32.png Guntur Romli Arsip - Media Simo Raya https://mediasimoraya.com/tag/guntur-romli/ 32 32 PSI Serang PDIP: Kritik Jokowi Keliling Indonesia Picu Perang Dingin Politik? https://mediasimoraya.com/psi-serang-pdip-kritik-jokowi-keliling-indonesia-picu-perang-dingin-politik/ https://mediasimoraya.com/psi-serang-pdip-kritik-jokowi-keliling-indonesia-picu-perang-dingin-politik/#respond Fri, 29 May 2026 13:19:12 +0000 https://mediasimoraya.com/komentar-miring-sejak-jokowi-cabut-kenikmatan-pdip/ Jakarta, Mediasimoraya.com – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) melancarkan serangan tajam terhadap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) terkait dengan kritikan partai tersebut terhadap

Artikel PSI Serang PDIP: Kritik Jokowi Keliling Indonesia Picu Perang Dingin Politik? pertama kali tampil pada Media Simo Raya.

]]>
Jakarta, Mediasimoraya.com – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) melancarkan serangan tajam terhadap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) terkait dengan kritikan partai tersebut terhadap rencana Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan perjalanan keliling Indonesia. Ketua DPP PSI, Bestari Barus, menuding bahwa kritik yang dilontarkan PDIP, khususnya melalui pernyataan politisi Guntur Romli, muncul setelah “kenikmatan-kenikmatan” yang selama ini dinikmati partai tersebut, diduga merujuk pada dukungan politik dan akses kekuasaan, dicabut oleh Jokowi. Pernyataan ini menjadi sorotan utama dalam dinamika politik yang semakin memanas menjelang dan pasca pemilihan umum, serta menandai perubahan signifikan dalam relasi antara partai politik dan tokoh-tokoh penting di pemerintahan.

Bestari mengungkapkan rasa heran dan kekecewaannya terhadap sikap PDIP yang dinilainya selalu khawatir terhadap langkah-langkah Jokowi. Ia berpendapat bahwa Jokowi, sebagai presiden yang dikenal dekat dengan masyarakat melalui kegiatan blusukan, memiliki basis dukungan yang kuat. Menurut Bestari, komentar miring dari PDIP mengindikasikan bahwa partai tersebut kesulitan menerima perubahan dinamika politik yang terjadi pasca pemilu. Hal ini mencerminkan adanya ketegangan yang mendalam antara kedua partai politik tersebut.

Dalam sebuah wawancara yang mengutip laporan dari detik.com, Bestari mengatakan, “Justru aneh kalau dia khawatir. Ngapain mesti khawatir? Pak Jokowi itu hanya, apa ya, kalau saya bilang tuh, adalah Presiden ke-7 yang dulu ketika beliau menjabat itu sering blusukan, sehingga ada kerinduan dari kelompok-kelompok masyarakat atau masyarakat secara pribadi yang pernah merasakan kebijakan beliau yang diterapkan di lapangan ketika beliau datang juga menyapa, itu ada kerinduannya beliau datang.”

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa pernyataan Bestari adalah bagian dari strategi PSI untuk menarik perhatian publik dan memperkuat citra Jokowi di mata masyarakat. Dengan mengkritik PDIP, PSI berupaya memposisikan diri sebagai pendukung setia Jokowi dan menawarkan diri sebagai wadah baru bagi para pendukung Jokowi yang mungkin merasa kecewa atau tidak lagi sejalan dengan PDIP. Langkah ini juga dapat dilihat sebagai upaya PSI untuk meningkatkan elektabilitas dan memperluas basis dukungan mereka.

Bestari juga menyoroti pernyataan Guntur Romli yang dianggapnya tidak komprehensif dalam melihat niat Jokowi. Ia mengklaim bahwa PDIP cenderung memberikan penilaian negatif terhadap Jokowi sejak mantan gubernur DKI Jakarta itu tidak lagi berada di partai tersebut. Pernyataan ini mengindikasikan adanya pergeseran loyalitas dan kepentingan politik yang signifikan.

“Enggak tahu ya semenjak kenikmatan-kenikmatan buat partainya itu dicabut oleh Pak Jokowi kan selalu miring saja pendapatnya, kan begitu,” kata Bestari, menambahkan sindirannya. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa hubungan antara Jokowi dan PDIP telah mengalami perubahan signifikan, yang mungkin didorong oleh perbedaan pandangan politik atau kepentingan yang tidak lagi selaras.

Dalam konteks ini, “kenikmatan-kenikmatan” yang disebutkan oleh Bestari dapat diartikan sebagai berbagai bentuk dukungan politik, akses kekuasaan, dan keuntungan lainnya yang mungkin dinikmati oleh PDIP selama Jokowi menjabat sebagai presiden. Pencabutan “kenikmatan” ini bisa jadi merujuk pada keputusan-keputusan Jokowi yang dianggap merugikan kepentingan PDIP atau mengurangi pengaruh partai tersebut dalam pengambilan kebijakan.

Lebih jauh, Bestari berharap bahwa kunjungan Jokowi ke berbagai daerah di Indonesia akan menjadi momentum bagi Jokowi untuk menegaskan dukungannya kepada PSI. Ia berharap pendukung Jokowi dapat beralih dari PDIP ke PSI. Hal ini menunjukkan ambisi PSI untuk mengambil alih basis dukungan Jokowi dan memperkuat posisi mereka dalam peta politik nasional.

“Jadi tanpa mereka (PDIP) sadari sebetulnya ya justru kami di PSI ini bergembira dengan Pak Jokowi sudah tidak lagi di sana, dan mudah-mudahan menjadi kesempatan juga pada saat mengunjungi seluruh Indonesia nanti, Pak Jokowi menyatakan bahwa sekarang sudah bersama PSI,” ujar Bestari.

“Makanya timbullah kegelisahan-kegelisahan itu. Wajarlah kan namanya Pak Jokowi dicintai rakyat, kemudian pindah ya silent voters-nya Pak Jokowi, pendukung Pak Jokowi juga akan ikut pindah tentu ke mana? Ke PSI, sehingga ada kekhawatiran-kekhawatiran mungkin ya kita maklumilah gitu,” sambungnya.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa pernyataan Bestari mencerminkan strategi PSI untuk menarik perhatian publik dan memperkuat citra Jokowi di mata masyarakat. Dengan mengkritik PDIP, PSI berusaha memposisikan diri sebagai pendukung setia Jokowi dan menawarkan diri sebagai wadah baru bagi para pendukung Jokowi yang mungkin merasa kecewa atau tidak lagi sejalan dengan PDIP. Langkah ini juga bisa dilihat sebagai upaya PSI untuk meningkatkan elektabilitas dan memperluas basis dukungan mereka.

Bestari kemudian meminta agar PDIP lebih fokus pada urusan internal partai dan mempertanyakan peran Guntur Romli di PDIP. Ia menyiratkan bahwa pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh Guntur Romli tidak konstruktif dan tidak memberikan kontribusi positif bagi partai.

“Sebaiknya dia cukup memperhatikan partainya dia, atau memang dia sudah enggak ada kerjaan di partainya sehingga harus memperhatikan partai orang? Jadi susah gitu,” ujarnya.

“Saya juga heran sebetulnya dia di PDIP itu sebagai apa sih? Pengurus bukan, apa bukan, atau lagi berlomba-lomba untuk menjadi pengurus gitu kan? Sehingga harus mengeluarkan statement-statement yang tidak berbobot sama sekali yang justru tidak membangun buat partainya,” kata Bestari.

Sebelumnya, Guntur Romli, yang merupakan Juru Bicara PDIP, menyatakan bahwa rencana Jokowi untuk keliling Indonesia tidak akan memberikan dampak signifikan. Ia mengklaim bahwa Jokowi, meskipun menjabat sebagai presiden, tidak mampu membawa PSI lolos ke parlemen. Pernyataan ini mencerminkan pandangan PDIP bahwa Jokowi tidak memiliki pengaruh yang besar terhadap dinamika politik saat ini.

“Secara logika sederhana saja, waktu Jokowi jadi Presiden tidak mampu meloloskan PSI ke Parlemen, apalagi sekarang tidak jadi apa-apa,” kata Gunrom.

Respons dari PSI terhadap pernyataan Guntur Romli menunjukkan bahwa persaingan politik antara kedua partai semakin memanas. PSI berusaha untuk memanfaatkan momentum ini untuk mengamankan dukungan dari para pendukung Jokowi, sementara PDIP berusaha untuk mempertahankan pengaruhnya dan mengkritik langkah-langkah yang diambil oleh Jokowi.

Perdebatan ini mencerminkan dinamika politik yang kompleks menjelang dan pasca pemilihan umum. Persaingan antara partai-partai politik untuk mendapatkan dukungan publik dan pengaruh politik semakin intensif. Perubahan relasi antara tokoh-tokoh penting di pemerintahan dan partai-partai politik juga menjadi sorotan utama dalam dinamika politik saat ini. Perjalanan Jokowi ke berbagai daerah, yang mendapat sorotan tajam dari PDIP, menjadi bukti nyata dari pergeseran peta politik dan persaingan yang semakin sengit.

Kritik PSI terhadap PDIP juga dapat dilihat sebagai upaya untuk memanfaatkan momentum politik. Dengan mengkritik PDIP, PSI berupaya membangun citra sebagai partai yang konsisten mendukung Jokowi, sekaligus menarik simpati dari para pendukung Jokowi yang mungkin merasa kecewa dengan sikap PDIP. Strategi ini sejalan dengan upaya PSI untuk memperkuat posisinya dalam peta politik nasional dan meningkatkan elektabilitas partai.

Di sisi lain, respons PDIP terhadap langkah Jokowi menunjukkan bahwa partai tersebut berupaya mempertahankan pengaruhnya dan mengamankan basis dukungan mereka. Kritik terhadap Jokowi, meskipun terkesan negatif, dapat dipandang sebagai upaya untuk menegaskan identitas partai dan membedakan diri dari partai-partai lain. Perdebatan ini mencerminkan dinamika politik yang kompleks menjelang dan pasca pemilihan umum, di mana persaingan antara partai-partai politik untuk mendapatkan dukungan publik dan pengaruh politik semakin intensif.

Perubahan relasi antara tokoh-tokoh penting di pemerintahan dan partai-partai politik juga menjadi sorotan utama dalam dinamika politik saat ini. Pergeseran loyalitas dan kepentingan politik, seperti yang diindikasikan oleh pernyataan Bestari, menunjukkan bahwa peta politik terus berubah dan partai-partai politik harus terus beradaptasi untuk mempertahankan atau meningkatkan pengaruh mereka.

Perang dingin antara PSI dan PDIP ini menggarisbawahi kompleksitas politik Indonesia. Sementara PSI berusaha memanfaatkan momentum untuk meraih keuntungan politik, PDIP berupaya mempertahankan dominasinya. Pertarungan ini akan terus berlanjut, membentuk lanskap politik Indonesia yang dinamis dan penuh tantangan.

Artikel ini dikembangkan dari laporan berbagai sumber untuk Mediasimoraya.com dengan penambahan analisis dan konteks.

Artikel PSI Serang PDIP: Kritik Jokowi Keliling Indonesia Picu Perang Dingin Politik? pertama kali tampil pada Media Simo Raya.

]]>
https://mediasimoraya.com/psi-serang-pdip-kritik-jokowi-keliling-indonesia-picu-perang-dingin-politik/feed/ 0